GLOBAL WARMING DAN PENCEGAHANNYA

PEMBAHASAN

Pokok-pokok ceramah Prof. Nicholas Robinson dan Amanda Katili

Penebangan hutan, keaiban peatland, dan yang kebakaran hutan telah meletakkan Indonesia antara teratas tiga emiter paling besar dari kaca memasang gas rumah di dunia. Pemancaran akibat oleh penebangan hutan dan kebakaran hutan adalah lima times itu dari bukan ‐ pemancaran ilmu kehutanan. Pemancaran dari daya dan sektor industri secara relatif kecil, tapi adalah tumbuh sangat dengan cepat. Pada waktu yang sama, Indonesia berdiri mengalami kehilangan berpengaruh nyata dengan iklim perubahan. Adalah satu kepulauan, Indonesia adalah sangat rentan ke dampak dari iklim perubahan. Memperpanjang kemarau, meningkat frekuensi di peristiwa cuaca ekstrim, dan curah hujan berat memimpin ke banjir besar, adalah beberapa contoh dari dampak dari iklim perubahan. Penggenangan dari beberapa bagian negara, sebagai contoh Jakarta Teluk Teluk, punya terjadi; Indonesia biodiversitas kaya juga berhadapan dengan resiko. Pada gilirannya, ini mungkin pimpin ke akibat berbahaya pada pertanian, perikanan dan ilmu kehutanan, menghasilkan di ancaman ke makanan

jaminan sekuritas dan mata pencarian. Indonesia akan menyelenggarakan Konferensi ke-13 dari para pihak ke perserikatan bangsa-bangsa Konvensi kerangka pada Beriklim, yang servis sebagai Rapat Ketiga dari para pihak ke Protokol Kyoto di Bali, 4 Desember ‐ 13, 2007. Laporan ini telah dipersiapkan sebagai satu input ke Penangkapan / PEL, pada kesempatan dari Tuan kunjungnya Buritan Nicholas ke

Indonesia. Laporan mendiskusikan pemancaran, dampak, dan batasan kebijakan dihadapi oleh Indonesia untuk mengatasi beriklim.

Emisi

Indonesia adalah antara teratas tiga emiter GHG di dunia sehubungan dengan mendarat perubahan penggunaan dan penebangan hutan.

Indonesia telah jadi salah satu tiga emiter paling besar dari kaca memasang gas rumah di dunia. Ini sebagian besar sehubungan dengan pelepasan berpengaruh nyata dari dioksida karbon dari penebangan hutan. Tahunan pemancaran di Indonesia dari daya, pertanian dan limbah bersama-sama adalah sekitar 451 juta ton dari padanan dioksida karbon (MtCO 2 e ). Darat namun ‐ pergunakan perubahan dan ilmu kehutanan (LUCF) sendiri ditaksir untuk melepaskan tentang 2,563 MtCO 2 e – kebanyakan dari penebangan hutan, sebagai ditaksir oleh IPCC (Houghton 2003, dikutip di Baumert et al . 2005). Sementara data pada pemancaran dari sumber berbeda membedakan di antara pembahasan, kesimpulan keseluruhan jadi sama. Indonesia adalah satu emiter utama dari GHGs.

Indonesia adalah penyelenggara ke area berhutan yang luas. Kesana-sini 24 milyar ton saham karbon (BtC) disimpan di nabati dan tanah, dan 80% ini (sekitar 19 BtC) disimpan pada hutan berdiri (State Ministry of Environment, 2003). Tapi keluar 108 juta ha dari area hutan, setengah hampir berada di dalam kondisi lemah dan terdegradasi (Departemen Kehutanan RI, 2006). Mendarat perubahan penggunaan dan penebangan hutan, ditaksir pada 2 juta hektar (ha) per tahun (Bank dunia 2000) hasilkan pada pelepasan dari satu besar sejumlah Karbonnya Indonesia reservoir. Bahwasanya, pemancaran dari LULUCF, khususnya penebangan hutan, liput 83% pemancaran tahunan dari kaca memasang gas rumah di Indonesia, dan 34% global LULUCF emisi.

Konversi penebangan hutan dan darat adalah sumber paling besar dari pemanasan global .

ada beberapa faktor yang menyebabkan ketidak-seimbangan alam, diantaranya: degradasi hutan, ekploitasi besar-besaran terhadap sumber daya alam, pembakaran hutan, konversi kawasan hutan menjadi perkebunan dan transmigrasi. Padahal, Indonesia merupakan salah satu negara di dunia dengan luas hutan terbesar, yaitu 120,3 juta hektar. Bedasarkan hasil survey Forest Watch Indonesia (FWI) dan Global Forest Watch (GFW) tahun 2001, seratus tahun yang lalu Indonesia masih memiliki hutan yang melimpah, pohon-pohonnya menutupi 80 sampai 95 persen dari luas total lahan. Tutupan total hutan pada waktu itu diperkirakan sekitar 170 juta hektar.(Diki kurniawan,2007) Dari 44 negara yang secara kolektif memiliki 90% hutan di dunia, negara yang meraih tingkat laju deforestasi tahunan tercepat di dunia adalah Indonesia, dengan 1,871 juta hektar hutan dihancurkan per tahun antara 2000 hingga 2005. Artinya, setiap harinya 51 kilometer persegi hutan di Indonesia hancur (tingkat kehancuran hutan sebesar 2% setiap tahunnya) atau setara dengan 300 lapangan bola setiap jamnya.(Media Indonesia, 5 Juni 2008) Berdasarkan data FWI dan GFW (2001) tercatat bahwa Indonesia masih memiliki hutan yang lebat pada tahun 1950. Sekitar 40 persen dari luas hutan pada tahun 1950 ini telah ditebang dalam waktu 50 tahun berikutnya. Jika dibulatkan, tutupan hutan di Indonesia turun dari 162 juta hektar menjadi 98 juta hektar.

Saat ini, hanya kurang dari separuh Indonesia yang memiliki hutan. Hal ini merepresentasikan penurunan signifikan dari luasnya hutan pada awalnya. Antara 1990 dan 2005, negara ini telah kehilangan lebih dari 28 juta hektar hutan, termasuk 21,7 persen hutan perawan. Penurunan hutan-hutan primer yang kaya secara biologi ini adalah yang kedua di bawah Brazil pada masa itu, dan sejak akhir 1990an, penggusuran hutan primer makin meningkat hingga 26 persen. Kini, hutan-hutan Indonesia adalah beberapa hutan yang paling terancam di muka bumi. (Rhett Butler, 2008)

Paling besar pemancaran dioksida karbon pada sektor ilmu kehutanan, kesana-sini tiga  triwulan (75%), datangi dari konversi penebangan hutan dan darat, diikuti oleh hutan  daya terkait konsumsi (23%), dan sisa dari hutan proses industri terkait (2%). Kebakaran hutan adalah penyokong utama dari konversi penebangan hutan dan darat,

bertanggungjawab 57% total konversi penebangan hutan dan darat. Pada 1997 kebakaran hutan sendiri, ini ditaksir yang di antara 3,000 dan 9,000 MtCO 2 e dilepaskan ke atmosfer (Halaman et al . 2002). Pada rata-rata, di sekitar 1,400 Mt dilepaskan selama pembakaran tahunan membumbui dan 600 Mt dilepaskan setiap tahun dari penguraian dari kering gambut (Wetlands International n.d.). Pemanasan global akan mungkin menyebabkan satu siklus ganas dengan mengeringkan hutan-hujan dan gambut, dengan demikian peningkatan risiko dari lebih lagi api keras.

Emisi dari sektor Energy adalah kecil tapi adalah tumbuh sangat dengan cepat.

Pemancaran dari bukan ‐ sektor ilmu kehutanan adalah kecil, di absolut dan per kapita kondisi, tapi adalah tumbuh sangat dengan cepat. Pemancaran saat ini dari sektor Energy, kesana-sini 275 MtCO 2 e, rekening untuk 9% penjumlahannya negara emisi. Tapi pemancaran ini dari industri, Power generasi, dan sektor angkut sedang menumbuh sangat dengan cepat pada Wake dari industrialisasi dan kemajuan ekonomi. Ini idaman tersebut, dengan arus kebijakan bidang pemerintah yang naik pangkat muaian dari bahan bakar fosil dan tinggi halangan untuk bersih dan sumber yang dapat diperbaharui dari Energy, kecenderungan adalah pemancaran itu dari

sektor Energy akan berlanjut mempertunjukkan satu perkembangan kuat, melipat-nigakan pada berikutnya 25 tahun dari tentang 275 MtCO 2 e pada 2003 untuk sekitar 716 MtCO 2 e pada 2030. Peningkatan di intensitas Energy dari Economy, kesana-sini 2% di antara 2000 dan 2004, telah offset oleh kemajuan ekonomi kuat secara keseluruhan. Pada satu per kapita basis, pemancaran kaca memasang gas rumah

di Yang Indonesia telah menumbuh 150% sejak 1980s, atau 67% sejak 1990 (Sumber daya dunia Institute 2007).

Emisi dari pertanian dan limbah adalah kecil .

Pemancaran dari pertanian dan memboroskan sektor adalah sangat kecil dan tidak penting serentak, mendatangi sebagian besar dari beras penghasilan. Sektor adalah kontribusi utama dari metana (CH 4 ) dan nitro oxida  (N 2 O ) pemancaran. Seventy% (70%) dari pemancaran dari sektor pertanian adalah dihasilkan oleh beras pengolahan tanah. Sekalipun hanya kekecilan, pemancaran kaca memasang gas rumah dari

Sektor limbah indonesia pada 2000 terbentang dari 32 – 60 MtCO 2 e. Indonesia pangkat ini seperti yang keenam emiter paling besar pada sektor sampah (USEPA 2006).

Dampak Indonesia akan mengalami kenaikan suhu .

Suhu arti tahunan di Indonesia telah diamati sebagai peningkatan oleh sekitar 0.3 Celsius derajat( o C ) sejak 1990 dan telah terjadi di semua musim dari tahun, secara relatif konsisten kalau tidak sedikit pegawai rendahan dibandingkan harapan dari kecenderungan hangat sehubungan dengan beriklim.

Pada 1990s adalah dasa warsa paling hangat dan satu 1998 peningkatan nyaris 1 o C (di atas 1961 – 1990 rata-rata) membuat ini negara tahun paling hangat pada abad (Unit penelitian iklim 2006). Pada 2020, ini diproyeksikan bahwa suhu arti akan bertambah di suatu tempat di antara 0.36 ke 0.47 o C membandingkan ke 2000, dengan suhu paling tinggi berpotensi terjadi di Island dari Kalimantan dan Southeastern bagian dari Kepulauan Maluku. Figur 2, di bawah, perlihatkan distribusi dari perubahan sepanjang negara oleh 2020  (Susandi 2007).

Efek rumah kaca

Segala sumber energi yang terdapat di Bumi berasal dari Matahari. Sebagian besar energi tersebut berbentuk radiasi gelombang pendek, termasuk cahaya tampak. Ketika energi ini tiba permukaan Bumi, ia berubah dari cahaya menjadi panas yang menghangatkan Bumi. Permukaan Bumi, akan menyerap sebagian panas dan memantulkan kembali sisanya. Sebagian dari panas ini berwujud radiasi infra merah gelombang panjang ke angkasa luar. Namun sebagian panas tetap terperangkap di atmosfer bumi akibat menumpuknya jumlah gas rumah kaca antara lain uap air, karbon dioksida, dan metana yang menjadi perangkap gelombang radiasi ini. Gas-gas ini menyerap dan memantulkan kembali radiasi gelombang yang dipancarkan Bumi dan akibatnya panas tersebut akan tersimpan di permukaan Bumi. Keadaan ini terjadi terus menerus sehingga mengakibatkan suhu rata-rata tahunan bumi terus meningkat.

Gas-gas tersebut berfungsi sebagaimana gas dalam rumah kaca. Dengan semakin meningkatnya konsentrasi gas-gas ini di atmosfer, semakin banyak panas yang terperangkap di bawahnya.

Efek rumah kaca ini sangat dibutuhkan oleh segala makhluk hidup yang ada di bumi, karena tanpanya, planet ini akan menjadi sangat dingin. Dengan temperatur rata-rata sebesar 15 °C (59 °F), bumi sebenarnya telah lebih panas 33 °C (59 °F)dari temperaturnya semula, jika tidak ada efek rumah kaca suhu bumi hanya -18 °C sehingga es akan menutupi seluruh permukaan Bumi. Akan tetapi sebaliknya, apabila gas-gas tersebut telah berlebihan di atmosfer, akan mengakibatkan pemanasan global.

Efek umpan balik

Anasir penyebab pemanasan global juga dipengaruhi oleh berbagai proses umpan balik yang dihasilkannya. Sebagai contoh adalah pada penguapan air. Pada kasus pemanasan akibat bertambahnya gas-gas rumah kaca seperti CO2, pemanasan pada awalnya akan menyebabkan lebih banyaknya air yang menguap ke atmosfer. Karena uap air sendiri merupakan gas rumah kaca, pemanasan akan terus berlanjut dan menambah jumlah uap air di udara sampai tercapainya suatu kesetimbangan konsentrasi uap air. Efek rumah kaca yang dihasilkannya lebih besar bila dibandingkan oleh akibat gas CO2 sendiri. (Walaupun umpan balik ini meningkatkan kandungan air absolut di udara, kelembaban relatif udara hampir konstan atau bahkan agak menurun karena udara menjadi menghangat).[3] Umpan balik ini hanya berdampak secara perlahan-lahan karena CO2 memiliki usia yang panjang di atmosfer.

Efek umpan balik karena pengaruh awan sedang menjadi objek penelitian saat ini. Bila dilihat dari bawah, awan akan memantulkan kembali radiasi infra merah ke permukaan, sehingga akan meningkatkan efek pemanasan. Sebaliknya bila dilihat dari atas, awan tersebut akan memantulkan sinar Matahari dan radiasi infra merah ke angkasa, sehingga meningkatkan efek pendinginan. Apakah efek netto-nya menghasilkan pemanasan atau pendinginan tergantung pada beberapa detail-detail tertentu seperti tipe dan ketinggian awan tersebut. Detail-detail ini sulit direpresentasikan dalam model iklim, antara lain karena awan sangat kecil bila dibandingkan dengan jarak antara batas-batas komputasional dalam model iklim (sekitar 125 hingga 500 km untuk model yang digunakan dalam Laporan Pandangan IPCC ke Empat). Walaupun demikian, umpan balik awan berada pada peringkat dua bila dibandingkan dengan umpan balik uap air dan dianggap positif (menambah pemanasan) dalam semua model yang digunakan dalam Laporan Pandangan IPCC ke Empat.

Umpan balik penting lainnya adalah hilangnya kemampuan memantulkan cahaya (albedo) oleh es. Ketika temperatur global meningkat, es yang berada di dekat kutub mencair dengan kecepatan yang terus meningkat. Bersamaan dengan melelehnya es tersebut, daratan atau air dibawahnya akan terbuka. Baik daratan           maupun air memiliki kemampuan memantulkan cahaya lebih sedikit bila dibandingkan dengan es, dan akibatnya akan menyerap lebih banyak radiasi Matahari. Hal ini akan menambah pemanasan dan menimbulkan lebih banyak lagi es yang mencair, menjadi suatu siklus yang berkelanjutan.

Umpan balik positif akibat terlepasnya CO2 dan CH4 dari melunaknya tanah beku (permafrost) adalah mekanisme lainnya yang berkontribusi terhadap pemanasan. Selain itu, es yang meleleh juga akan melepas CH4 yang juga menimbulkan umpan balik positif.

Kemampuan lautan untuk menyerap karbon juga akan berkurang bila ia menghangat, hal ini diakibatkan oleh menurunya tingkat nutrien pada zona mesopelagic sehingga membatasi pertumbuhan diatom daripada fitoplankton yang merupakan penyerap karbon yang rendah. Di bawah ini adalah skema dari efe umpan balik.

Variasi Matahari

Terdapat hipotesa yang menyatakan bahwa variasi dari Matahari, dengan kemungkinan diperkuat oleh umpan balik dari awan, dapat memberi kontribusi dalam pemanasan saat ini. Perbedaan antara mekanisme ini dengan pemanasan akibat efek rumah kaca adalah meningkatnya aktivitas Matahari akan memanaskan stratosfer sebaliknya efek rumah kaca akan mendinginkan stratosfer. Pendinginan stratosfer bagian bawah paling tidak telah diamati sejak tahun 1960, yang tidak akan terjadi bila aktivitas Matahari menjadi kontributor utama pemanasan saat ini. (Penipisan lapisan ozon juga dapat memberikan efek pendinginan tersebut tetapi penipisan tersebut terjadi mulai akhir tahun 1970-an.) Fenomena variasi Matahari dikombinasikan dengan aktivitas gunung berapi mungkin telah memberikan efek pemanasan dari masa pra-industri hingga tahun 1950, serta efek pendinginan sejak tahun 1950.

Ada beberapa hasil penelitian yang menyatakan bahwa kontribusi Matahari mungkin telah diabaikan dalam pemanasan global. Dua ilmuan dari Duke University mengestimasikan bahwa Matahari mungkin telah berkontribusi terhadap 45-50% peningkatan temperatur rata-rata global selama periode 1900-2000, dan sekitar 25-35% antara tahun 1980 dan 2000 Stott dan rekannya mengemukakan bahwa model iklim yang dijadikan pedoman saat ini membuat estimasi berlebihan terhadap efek gas-gas rumah kaca dibandingkan dengan pengaruh Matahari; mereka juga mengemukakan bahwa efek pendinginan dari debu vulkanik dan aerosol sulfat juga telah dipandang remeh. Walaupun demikian, mereka menyimpulkan bahwa bahkan dengan meningkatkan sensitivitas iklim terhadap pengaruh Matahari sekalipun, sebagian besar pemanasan yang terjadi pada dekade-dekade terakhir ini disebabkan oleh gas-gas rumah kaca.

Pada tahun 2006, sebuah tim ilmuan dari Amerika Serikat, Jerman dan Swiss menyatakan bahwa mereka tidak menemukan adanya peningkatan tingkat “keterangan” dari Matahari pada seribu tahun terakhir ini. Siklus Matahari hanya memberi peningkatan kecil sekitar 0,07% dalam tingkat “keterangannya” selama 30 tahun terakhir. Efek ini terlalu kecil untuk berkontribusi terhadap pemansan global. Sebuah penelitian oleh Lockwood dan Fröhlich menemukan bahwa tidak ada hubungan antara pemanasan global dengan variasi Matahari sejak tahun 1985, baik melalui variasi dari output Matahari maupun variasi dalam sinar kosmis.

terdapat hipotesa yang menyatakan bahwa variasi dari Matahari, dengan kemungkinan diperkuat oleh umpan balik dari awan, dapat memberi kontribusi dalam pemanasan saat ini.[6] Perbedaan antara mekanisme ini dengan pemanasan akibat efek rumah kaca adalah meningkatnya aktivitas Matahari akan memanaskan stratosfer sebaliknya efek rumah kaca akan mendinginkan stratosfer. Pendinginan stratosfer bagian bawah paling tidak telah diamati sejak tahun 1960,[7] yang tidak akan terjadi bila aktivitas Matahari menjadi kontributor utama pemanasan saat ini. (Penipisan lapisan ozon juga dapat memberikan efek pendinginan tersebut tetapi penipisan tersebut terjadi mulai akhir tahun 1970-an.) Fenomena variasi Matahari dikombinasikan dengan aktivitas gunung berapi mungkin telah memberikan efek pemanasan dari masa pra-industri hingga tahun 1950, serta efek pendinginan sejak tahun 1950.[8][9]

Ada beberapa hasil penelitian yang menyatakan bahwa kontribusi Matahari mungkin telah diabaikan dalam pemanasan global. Dua ilmuan dari Duke University mengestimasikan bahwa Matahari mungkin telah berkontribusi terhadap 45-50% peningkatan temperatur rata-rata global selama periode 1900-2000, dan sekitar 25-35% antara tahun 1980 dan 2000.[10] Stott dan rekannya mengemukakan bahwa model iklim yang dijadikan pedoman saat ini membuat estimasi berlebihan terhadap efek gas-gas rumah kaca dibandingkan dengan pengaruh Matahari; mereka juga mengemukakan bahwa efek pendinginan dari debu vulkanik dan aerosol sulfat juga telah dipandang remeh.[11] Walaupun demikian, mereka menyimpulkan bahwa bahkan dengan meningkatkan sensitivitas iklim terhadap pengaruh Matahari sekalipun, sebagian besar pemanasan yang terjadi pada dekade-dekade terakhir ini disebabkan oleh gas-gas rumah kaca.

Pada tahun 2006, sebuah tim ilmuan dari Amerika Serikat, Jerman dan Swiss menyatakan bahwa mereka tidak menemukan adanya peningkatan tingkat “keterangan” dari Matahari pada seribu tahun terakhir ini. Siklus Matahari hanya memberi peningkatan kecil sekitar 0,07% dalam tingkat “keterangannya” selama 30 tahun terakhir. Efek ini terlalu kecil untuk berkontribusi terhadap pemansan global.[12][13] Sebuah penelitian oleh Lockwood dan Fröhlich menemukan bahwa tidak ada hubungan antara pemanasan global

About EDIKUN

Pribadi yang sederhana, menatap masa depan, optmis dan tidak terlepas dari si kulit bundar. Lihat semua pos milik EDIKUN

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: